Laman

Selasa, 08 Mei 2012

PANJAT TEBING


Pendahuluan
Pada dasarnya, rock climbing atau dalam indonesia disebut Panjat Tebing adalah teknik memanjat tebing batu dengan memanfaatkan cacat batuan dan merupakan salah satu cara untuk mencapai puncak. Pada awalnya orang melakukan panjat tebing karena alasan mata pencaharian seperti yang dilakukan sebagian orang Perancis yang memanjat Pegunungan Alpen untuk berburu kambing gunung (chamois), atau di Indonesia seperti pengunduh sarang burung walet gua di Kalimantan Timur.  Pada perkembangannya banyak tujuan orang memanjat tebing namun pada dasarnya adalah sama yaitu suatu cara mencapai suatu tempat atau puncak.
Ciri khas rock climbing adalah prosedur dan perlengkapan yang dipergunakan, selain itu juga adanya prinsip dan etika dalam pemanjatan. Seorang pemanjat tebing dituntut untuk berani, teliti, kemampuan berfikir dan bertindak di saat kritis. Selain itu diperlukan juga kekuatan fisik yang prima, kelenturan dan penguasaan teknik yang benar, karena hal-hal tersebut di atas merupakan dasar dari panjat tebing. Secara umum dasar-dasar tersebut bertujuan agar kita memiliki pengetahuan dan kemampuan dasar pemanjat tebing yang nantinya kita gunakan dalam sebuah pemanjatan pada medan sebenarnya.
Panjat tebing merupakan salah satu dari cabang mountaineering yang paling penting, memerlukan kecakapan mendaki tebing batu yang terjal, kemampuan analisa yang tinggi, mental baja, serta ketahanan fisik yang besar. Rock climbing dapat dibagi menjadi empat bagian utama, yaitu kecakapan mendaki, orientasi jalur/route finding, protection, dan mentalitas.

Klasifikasi Panjat Tebing
Pemanjatan tebing menurut lama pemanjatan dan ketinggiannya, terbagi dalam tiga jenis, namun dalam pembedaan ini satu sama lainnya tidak terpisahkan secara jelas.

 

BOULDERING

Pemanjatan dilakukan pada tebing yang tidak terlalu tinggi, bisa pemanjat melakukan gerakan secara vertikal, kiri-kanan dan naik turun. Gerakan ini dilakukan berulang kali. Untuk bouldering ini perlengkapan yang digunakan ditekan sedikit mungkin. Jadi pemanjat hanya memerlukan pakaian, sepatu dan chalk bag.
Adapun tujuan bouldering adalah :
·         Sebagai pemanasan bagi pemanjat sebelum melakukan pemanjatan di dinding tinggi.
·         Sangat bagus untuk melatih gerakan yang sulit.
·         Untuk melatih endurance

CRAG CLIMBING

Merupakan panjat bebas,dan dalam pelaksanaannya dapat dilakukan dengan dua cara :
1.      
 
Single pitch climbing : dalam pemanjatan ini tidak diperlukan dengan berhenti di tengah untuk mengamankan orang kedua.












2.       Multi pitch climbing : pemanjatan ini dilakukan pada tebing yang lebih tinggi dan diperlukan pergantian leader. Tiap pemanjat memulai dan mengakhiri pada teras memadai untuk mengamankan diri dan untuk mengamankan orang kedua (second man)

BIG WALL CLIMBING

Jenis pemanjatan di tempat yang lebih tinggi dari crag climbing dan membutuhkan waktu berhari-hari, peralatan yang cukup dan juga memerlukan pengaturan tentang jadwal pemanjatan, pengaturan mengenai makanan, perlengkapan tidur dan yang lainnya. Dalam pemanjatan bigwall ada dua sistem yang dipakai yaitu :

Siege tactic menggunakan peralatan tenda gantung yang dapat di pasang pada dinding tebing
 

1.       Alpine Push atau Siege Tactic
Dalam alpine push, pemanjat selalu ada di tebing dan tidur di tebing. Jadi segala  peralatan dan perlengkapan serta kebutuhan untuk pemanjatan dibawa ke atas. Pemanjat tidak perlu turun sebelum pemanjatan berakhir.
2.       Himalayan Tactic
Pemanjatan big wall yang dilakukan sampai sore hari. Setelah itu pemanjat boleh turun ke base camp untuk istirahat dan pemanjatan dilanjutkan keesokan harinya. Sebagian alat masih menempel di tebing untuk memudahkan pemanjatan selanjutnya. Ini dilakukan sampai puncak.
Perbedaan dari keduanya adalah :
Alpine Push :
·         Waktu pemanjatan lebih singkat
·         Alat yang digunakan lebih sedikit
·         Waktu istirahat sedikit
·         Perlu load carry
Himalayan Tactic :
·         Waktu pemanjatan lebih lama
·         Alat yang dibutuhkan lebih banyak
·         Waktu istirahat banyak
·         Tidak memerlukan load carry

Tingkat Kesulitan (Grade) Dalam Panjat Tebing
Setiap jenis tebing memiliki tingkat kesulitan yang bervariasi dan untuk memudahkan estimasi tingkat kesulitan tersebut, biasanya digunakan sistem desimal yang dimulai dari angka lima (mengacu pada standar tingkat kesulitan yang dibuat oleh Amerika).
Garde 5,7-5,8          Adalah tingkat kesulitan pemanjatan yang amat mudah. Lintasan pemanjatan untuk pegangan dan pijakan sangat banyak, besar, dan mudah didapat. Sudut kemiringan tebing belum mencapai 90 derajat.
Garde 5,9.                Tingkat kesulitan pemanjatan yang mulai agak sulit karena jarak antara pegangan dan pijakan mulai berjauhan tetapi masih banyak dan besar.
Garde 5,10.             Pada tingkat ini pemanjatan mulai sulit karena komposisi pegangan dan pijakan sudah bervariasi besar dan kecil. Jarak antar celah dan tonjolan mulai berjauhan. Terdapat dua tumpuan tangan dan satu tumpuan kaki, faktor keseimbangan mulai dibutuhkan.
Garde 5,11.             Tingkat kesulitan ini lebih sulit lagi karena letak antara pegangan yang satu dengan pegangan yang lainnya berjauhan dan kecil-kecil yang hanya bisa dipegang oleh beberapa jari saja, kedua tungkai melakukan gerakan melebar agar kaki dapat bertumpu pada tumpuan berikutnya. Keseimbangan tubuh sangat berpengaruh, bentuk tebing yang dilalui pada lintasan ini terdapat variasi antara tebing gantung dan atap.
Garde 5,13-5,14.    Jalur lintasan ini bervariasi antara tebing gantung dan atap dengan satu tumpuan kaki dan satu tumpuan tangan. Pemanjat mulai melakukan gerakan gesek (friction) dan bertumpu pada ujung jari (edginh) bahkan harus mengaitkan tumit pada pijakan (hooking).
Selain kriteria kesulitan ini, Negara lain juga membuat tingkat kesulitan sesuai dengan penilaian masing-masing, antara lain Jerman, Perancis, UIAA (Union Internationale des Association Alpines).

Kecakapan Panjat Tebing/Pendakian
Kecakapan dalam panjat tebing meliputi pengenalan peralatan/perlengkapan dan teknik-teknik dalam pemanjatan tebing.

PENGENALAN TEBING

Tebing sendiri merupakan prasarana dalam kegiatan panjat tebing. Pengetahuan dasar tentang tebing yang harus diketahui antara lain: Bentuk tebing, bagian tebing yang dilihat secara keseluruhan mulai dasar sampai puncak. Bagian-bagiannya antara lain blank (bentuk tebing yang mempunyai sudut 90 derajat atau biasa disebut vertikal), overhang (bentuk tebing yang mempunyai sudut kemiringan antara 10-80 derajat), roof (bentuk tebing yang mempunyai sudut 0 atau 180 derajat, terletak menggantung), teras (bentuk tebing yang mempunyai sudut 0 atau 180 derajat, terletak menjorok ke dalam tebing), dan top (bagian tebing paling atas yang merupakan tujuan akhir suatu pemanjatan).
Lalu ada soal permukaan tebing yang merupakan bagian dari tebing yang nantinya akan digunakan untuk berpegang dan berpijak dalam suatu pemanjatan. Bagian ini di kategorikan menjadi tiga bagian: face (permukaan tebing yang mempunyai tonjolan), slap/friction (permukaan tebing yang tidak mempunyai tonjolan atau celah, rata, dan mulus tidak ada cacat batuan), dan fissure (permukaan tebing yang tidak mempunyai celah/crack).
Dengan mengenali pengenalan dasar atas medan yang hendak ditempuh, para pemanjat akan langsung bisa mempersiapkan teknik penaklukannya dan mengurangi tingkat kesulitannya.

PENGENALAN PERALATAN

 
Tali

Tali, carbiner, webing, dan anchor adalah kombinasi  keselamatan pemanjatan
 
Untuk rock climbing diperlukan tali yang kuat, kokoh, ringan, punya daya lentur tinggi, tidak mudah basah, cepat kering, dan mudah dibawa. Dalam hal ini tali kernmantel dynamic lebih sering digunakan karena memenuhi kebutuhan tersebut. Namun demikian perlu diingat bahwa tali akan berkurang kekuatannya karena berbagai hal, antara lain gesekan, hentakan, panas matahari, simpul yang dibuat pada tali dan usia pemakaian.



Carabiner

Carabiner atau snaplink adalah cincin kait yang terbuat dari allumunium alloy yang bentuknya beragam dan mempunyai gate yang berfungsi seperti peniti dan mempunyai kekuatan yang bervariasi tergantung pada beberapa hal antara lain logam, bentuk, penampang lintang dan pintunya. Sedang kelemahan dari carabiner terletak pada pintunya terutama pin engsel dan pin penguncinya.
Ada 2 jenis carabiner yaitu :
·         Carabiner screw gate (menggunakan kunci pengaman)
·         Carabiner non screw gate (tanpa kunci pengaman)

Piton

Piton adalah sepotong logam dibentuk agar berfungsi sebagai pasak celah tebing batu. Piton dari baja kromalin lebih banyak digunakan pemanjat karena alat ini mudah dicabut untuk digunakan kembali dan sangat menguntungkan untuk pemanjatan artificial pada suatu tebing yang panjang. Secara umum piton terbagi dua yaitu :
·         Piton bilah (piton blade)
·         Piton siku (piton angle)
Dari kedua tipe ini dikembangkan bermacam-macam bentuk piton sesuai dengan jenis celah batu yang ada dan selain itu ada lagi piton yang khusus dipakai (penambat tali) dalam rapelling.

Chock & Friend

Chock adalah sebuah alat yang dimasukkan pada celah batu dengan jari tangan sehingga terjepit dan dapat menahan beban berat dari arah tertentu, chock mempunyai 3 bentuk yaitu :
1.       Bulat
2.       Segi enam (hexentric)
3.       Baji (stopper)
Friend adalah sebuah alat penjepit, yang fungsinya tidak jauh berbeda dengan fungsi chock, kemampuan friend menyesuaikan ukuran bentuknya agar bisa digunakan pada berbagai celah batu.

A : hexentric
B : Friend
 
A                      B

Etrier/Stirrup

Etrier/Stirrup (tangga gantung) adalah alat untuk pemanjatan artificial. Etrier ada dua macam yakni dari webbing dan dari logam campuran alumunium. Dengan tangga ini pemanjat dapat bertumpu setinggi mungkin pada tebing yang curam, bercelah tipis dan blank, serta memudahkan pemanjat untuk menambah ketinggian.

Hammer

Palu untuk memanjat tebing sedikit berbeda dengan palu untuk paku. Pada pemanjatan artificial, kepala palu harus cukup berat agar dalam penancapan piton bias dilakukan dengan mudah, bagian kepala palu lebar, bagian ekor berbentuk baji (wedge) atau meruncing.

Sepatu panjat

Ada dua jenis sepatu yang digunakan dalam pemanjatan :
1.       Sepatu yang lentur dan fleksibel dalam hal ini menggunakan sol yang halus
·         Setiap pijakan dapat dirasakan oleh pemanjat karena solnya tipis
·         Untuk medan kering
·         Menguntungkan pada rekahan kecil, permukaan tebing yang miring (overhang), pijakan membulat (slob).
·         Ringan
2.       Sepatu yang solnya kaku
·         Lebih aman untuk jamming pada rekahan yang lebar dan tajam.
·         Tidak mudah lelah dan menguntungkan untuk berdiri pada pijakan kecil dan tajam.
·         Berat
·         Untuk medan basah dan kering.

Helm

Seorang pemanjat tebing dianjurkan memakai pelindung kepala atau helm. Perlengkapan ini berfungsi melindungi kepala dari benda yang jatuh dari atas trutama batu dan benturan kepala dengan tebing ketika jatuh.

Harness

Harness pada rock climbing dirancang  dapat melakukan posisi duduk
 

Alat pengaman pemanjatan yang dapat menahan atau mengikat badan. Ada dua jenis harness :
·         Seat harness, menahan beban badan pemanjat tebing yang jatuh agar tidak mematahkan pinggulnya.
·         Full body harness, menahan beban badan pemanjat tebing pada bagian pinggul, dada, punggung, dan paha.

Webbing

Webbing adalah pita yang tebuat dari bahan nilon yang mempuntai kekuatan sama dengan tali, meskipun tidak mempunyai daya lentur, kegunaannya banyak sekali antara lain adalah untuk sling, tangga gantung dan sebagainya.

Ascender dan Descender

Ascender adalah alat penjepit tali yang berfungsi jika beban bertumpu padanya, sehingga tidak dapat melorot. Prinsipnya dapat dinaikkan walaupun dalam keadaan terkunci, jika akan menurunkan harus membuka kunci terlebih dahulu.
Descender adalah sebuah alat untuk turun dengan tali yang menggunakan system gesekan. Tali dapat bergeser pada alat ini sehingga gerakan turun dapat dikontrol dengan baik dan membantu dalam pengereman. Dari sekian banyak tipe yang ada, figure of eight dan gri-gri cukup baik dipakai karena mempunyai fungsi ganda sebagai alat belaying.

Chalk Bag

 
Berbentuk kantung kecil ditempatkan pada bagian belakang, berisi kapur yang mengadung Magnesium (Mg) yang berfungsi mengeringkan tangan yang basah oleh keringat.
Pakailah kapur saat tangan terasa licin dan pada sepatu atau telapak kaki jika  licin juga
 
Pada kebanyakan orang keringat keluar karena panas yang keluar dari tubuh, hal ini disebabkan pengaruh hormonal tubuh yaitu saat berada di ketinggian tertentu memunculkan perasaan takut yang membuat otak berpikir bahaya yang mengancam sehingga hormon aldenarin memacu jantung lebih cepat dari biasanya dan tubuh menjadi panas, dan keringat keluar untuk mendinginkan tubuh dari panas.
Biasakanlah  beristirahat saat pemanjatan untuk mengatur langkah dan nafas, dan tidak usah terburu-buru

TEKNIK PANJAT TEBING

Meliputi teknik-teknik khusus dalam rock climbing yang berhubungan dengan pemanfaatan anggota tubuh maupun dengan alat bantu/artificial climbing.

Tangan dan Kaki

·         Hold
Yaitu istilah untuk menunjukkan tempat dimana kaki dan tangan diletakkan dan mendapatkan pegangan. Hold tentu saja bervariasi dalam ukuran, bentuk, jenis batuan, serta friksi/gesekan yang dipunyai. Jenis-jenis hold, yaitu : flat hold dan mantle shelf, finger hold, pinch grip, foot hold, side hold, jug hold, lay backing, opposition, small hold, under cuts.
·         Jamming
Adalah teknik dimana tangan/kaki dimasukkan /dijepitkan pada celah yang ada sehingga merupakan penguat kedudukan.

A : variasi Hold pada tangan yaitu open grip
B : jamming
 
A                   B

Tubuh

Chimneying, yaitu pemanfaatan celah yang lebar sebagai sarang pendaki, dengan menggunakan kaki, tangan dan punggung secara bersamaan.

Stirrups/Etriers

Alat bantu yang berujud tangga dari tapes dan metal yang digantungkan pada batu yang menonjol, maupun pada pasak/paku bor yang telah dipasang sebelumnya.

Ascender

Alat bantu yang dikaitkan ke tali apabila didorong ke atas (lewat tali) akan tetapi tidak bias ditarik ke bawah, sehingga akan menahan beban si pendaki agar tidak jatuh. Jenis-jenisnya yaitu jummar, clogs (mekanis), prusik loops.

TIPE PEMANJATAN

Kecakapan mendaki juga termasuk pengenalan terhadap jenis-jenis pendakian yang ada, yaitu :
Face Climbing
Yaitu memanjat pada tebing dimana masih terdapat tonjolan-tonjolan ataupun celah-celah yang dapat digunakan sebagai pijakan kaki maupun pegangan tangan. Dalam face climbing yang harus diperhatikan adalah :
·         Tumpuan, percayakan berat badan pada kaki, bukan pada tangan. Tangan lebih dipakai untuk mengatur keseimbangan.
·         Jangan rapatkan badan pada tebing karena akan memudahkan momen gaya pada kaki akibatnya mudah tergelincir.
·         Jangan memindahkan tangn/kaki terlalu jauh supaya berat badan tetap terkonsentrasi pada bidang tumpuan.
·         Jangan tergesa-gesa dan terlalu cepat dalam bergerak.
·         Ingat hokum tripot, yaitu usahakanlah selalu ada tiga titik tumpuan, 2 tangan satu kaki atau satu tangan 2 kaki.

Friction/Slab Climbing

Dalam pendakian ini semata-mata hanya mengandalkan daya gesek sebagai penumpu. Ini sering terjadi pada tebing yang tidak terlalu vertical/slab, dimana kekasaran permukaan tebing cukup dapat menahan tubuh. Sepatu yang baik dan pembebanan maksimal pada kaki adalah hal yang penting dalam pendakian jenis ini.

Fissure Climbing

Dalam pendakian jenis ini, anggota tubuh diumpamakan sebagai pasak yang dijepitkan pada celah-celah yang ada, sehingga merupakan daya penahan bagi tubuh kita. Disinilah jamming dan chimneying berfungsi.
Pemanjatan biasanya dilakukan secara berkelompok, dengan tugas yang berbeda, yaitu :
·         Leader, pemanjat yang naik pertama kali
·         Second man/belayer, pemanjat kedua sekaligus yang menambat atau mem’belay’ leader.

PEMANASAN PEMANJAT

Pemanasan merupakan awal dari aktivitas olahraga, termasuk olahraga panjat tebing Dan bentuk dari pemanasan itu bermacam-macam, antara lain peregangan. Sedangkan metode peregangan terdiri dari tiga macam yaitu  :
·         Metode statis, masyarakat umum mengenalnya dengan istilah  stretching.
·         Metode dinamis, dikenal dengan istilah senam  pemanasan. 
·         Metode pasif, peregangan yang dibantu orang lain. 
Dengan melakukan stretching kita akan mendapatkan beberapa keuntungan, yaitu  :
·         Otot akan siap menerima beban tambahan yang lebih berat  lagi. 
·         Membantu koordinasi kerja otot agar dapat lebih mudah untuk bergerak. 
·         Memperluas daya gerak dari persendian otot. 
·         Mempermudah gerak yang akan dilakukan . 
·         Tindakan preventif untuk mencegah terjadinya cedera pada otot dan sendi. 
·         Menghindarkan rasa sakit pada otot, setelah latihan yang berat
·         Selama gerakan stretching dilakukan maka hanya otot-otot  yang bersangkutan saja yang ,menerima beban, sedangkan  otot antagonistisnya tidak. 
Metode statis lebih sedikit memakai energi, jika di bandingkan dengan metode dinamis.

Sistem Pengaman
Anchor (dibaca : angker) atau tempat untuk berkait seperti jangkar kapal namun dalam rock climbing disebut pengaman adalah alat yang dapat dipakai sebagai penahan beban. Tali dimasukkan pada anchor melalui carabiner sehingga pemanjat dapat tertahan oleh anchor bila jatuh. Ada dua jenis anchor :
1.       Natural anchor, bisa berupa pohon, lubang tembus, tonjolan batu yang menyerupai tanduk (horn).
2.       Artifisial anchor, adalah anchor buatan yang ditempatkan dan diusahakan ada pada tebing oleh pemanjat sebagai pengaman. Bentuk dan modelnya disesuaikan dengan cacat batuan contohnya chock, friend, piton dan lain-lain.
Penempatan runner pada sebuah jalur tujuannya adalah untuk mengurangi akibat jatuh yang sangat fatal, maka penempatan runner pada jarak-jarak tertentu di tebing perlu dilakukan. Menempatkan runner sebanyak mungkin berarti memperkecil fall factor (resiko pemanjat jatuh dengan tali yang terulur).
Pemasangan runner pada dua ancor dapat mengurangi faktor kegagalan anchor menahan hentakan tali saat tubuh jatuh
 
 
Seorang leader yang jatuh tanpa memasang anchor atau runner sebelumnya mempunyai fall factor dua. Jatuhnya sangat membahayakan karena belayer akan sulit sekali menahannya, kendati jatuhnya tidak terlalu jauh. Beban yang harus ditahan belayer sangat berat dan hanya bisa dikurangi apabila tali yang tersangkut pada runner atau anchor meredamnya dengan daya lentur yang dimiliki tali. Semakin kecil fall factor semakin aman dan ringan beban yang diterima belayer sebagai pengaman leader. Perhitungan penempatan anchor atau runner setiap tiga atau empat meter adalah tindakan yang tepat dan aman. Perhatikan juga friksi tali dari tepian tebing yang tajam, terjepit ke dalam celah dan berbelok-belok yang menyebabkan tercerai berainya anchor atau runner.

Seorang pemanjat tebing juga harus mempunyai pengetahuan tentang masa pakai alat, frekuensi pemakaian, prestasi alat, karakteristik dan cara kerja alat. Kecelakaan yang ada sangkut pautnya dengan peralatan lebih banyak terjadi karena kesalahan pemakaian (human error), bukan unjuk kerja (performance) alat. Dari data yang diperoleh menunjukkan bahwa terjadinya kecelakaan pada panjat tebing sebagian besar disebabkan dalam penguasaan teknik dan peralatan, jika semua prosedur pemanjatan sudah dilakukan dengan benar resiko buruk akibat jatuh dapt diperkecil.
Catatan :
Leader adalah pemanjat pertama yang melakukan pemanjatan atau membuka jalur pemanjatan. Pada tahap menjadi seorang leader, seorang pemanjat harus sudah menguasai dan terampil dalam semua teknik yang ada dalam rock climbing. Belayer (Ground and Hanging) adalah cara atau teknik dasar untuk persiapan penyelamatan pada pemanjat pertama untuk menambah ketinggian. Cara atau teknik ini harus dikuasai oleh seorang pemanjat selain dapat menambah ketinggian dan keamanan belayer itu sendiri.

Manajemen Tali (Rope Management)
Untuk pemanjatan dalam panjat tebing (rock climbing) pada umumnya ada dua macam, yaitu :
1.       Pemanjatan dengan tali tunggal, pemanjatan yang menggunakan satu tali utama.
2.       Pemanjatan dengan tali ganda, pemanjat yang menggunakan dua tali utama.
Kedua teknik ini pada intinya mengenai penggunaan tali pemanjatan dan penguasaan tentang tali-tali dalam suatu kegiatan rock climbing. Dalam pelaksanaan rock climbing semua unsure pengaman bagi pemanjatan baik yang ada pada pemanjat ataupun yang dipasang di tebing harus menyesuaikan simpul dan tali. Penempatan dari ketrampilan tali-temali ini harus menggunakan simpul yang tepat dan efektif, agar dapat membantu menolong diri sendiri ataupun teman.

Manajemen Pemanjatan (Climbing Management)

Pemilihan alat untuk memulai pemanjatan  yang tepat dapat mengurangi beban berat yang ditanggung pemanjat
 

Dalam suatu kegiatan olahraga alam bebas, mengetahui medan dengan perencanaan adalah suatu hal yang sangat penting. Bidang panjat tebing ini memerlukan urutan, tata cara dan prosedur yang tepat agar menjamin lancarnya pemanjatan, serta memudahkan pengaturan.
Langkah-langkah dalam pemanjatan :

 

PEMILIHAN JALUR

Jalur yang dipilih berdasarkan data yang telah ada, baik melalui literature, informasi dari pemanjat lain serta pengamatan langsung. Pengamatan langsung merupakan cara yang paling baik, karena dapat mengetahui kondisi tebing yang sebenarnya, sering disebut orientasi jalur. Dalam orientasi jalur ada beberapa hal penting yang sangat berguna dalam pemanjatan, antara lain :
·         Dapat memperkirakan tinggi, jenis batuan, berapa pitch yang akan dipanjat.
·         Menentukan titik awal pemanjatan.
·         Menentukan jenis alat pengaman yang akan digunakan.
·         Memperhitungkan penempatan anchor untuk istirahat, pergantian leader untuk hanging belay juga hanging bivaak.

PEMBAGIAN PERSONIL

Personil dibagi berdasarkan pada :
·         Jumlah personil
·         Kemampuan personil
·         Jalur yang dipilih
·         Sistem pemanjatan
·         Ketersediaan alat

MEMPERSIAPKAN PEMANJATAN

Peralatan yang dibawa disesuaikan dengan jalur yang akan dipanjat dengan susunan yang rapi dan sistematis. Adapun factor yang mempengaruhi pemakaian alat adalah :
·         Jenis batuan
·         Cacat batuan
·         Kemampuan leader
·         Pengaman yang tersedia

MEMPERSIAPKAN PEMANJATAN

Setelah semua peralatan siap, maka pemanjatan dapat dimulai. Hal yang penting dalam pemanjatan beregu adalah adanya komunikasi antar pemanjat, terutama leader dan belayer. Komunikasi ada dua bentuk,  yaitu bahasa dan isyarat. Komunikasi bahasa digunakan apabila leader dan belayer masih dalam jangkauan teriakan. Komunikasi isyarat digunakan apabila leader dan belayer sudah berada di luar jangkauan teriakan. Dalam kenyataan di lapangan, alat komunikasi lebih menguntungkan sebab irit energi dan mudah memakainya.

MEMULAI PEMANJATAN

Leader melakukan pemanjatan pitch 1 dengan membawa dua roll tali sekaligus. Satu tali sebagai tali utama (yang akan diikatkan pada runner) dan tali tambat (fixed rope). Fixed rope ini dapat juga sebagai transport barang/peralatan antara leader dan personil yang ada di bawahnya.

CLEANING

Setelah leader menyelesaikan pitch 1 dan memberitahu bahwa pemanjat kedua siap dan boleh naik. Personel kedua melakukan  jummaring dan sekaligus menyapu runner yang telah dipasang leader. Jummaring dilakukan pada fixed rope dengan berbagai keuntungan :
·         Tali dalam keadaan lurus vertikal sehingga tidak terjadi pendulum.
·         Tali tidak tertambat pada runner yang akan diambil sehingga memudahkan pengambilan.
·         Gerakan lebih bebas.
Agar cleaner tidak terlalu jauh dengan runner yang akan dilepas, maka antara tali utama dengan fixed rope harus dihubungkan. Tugas cleaner :
·         Membersihkan jalur dan menyapu runner
·         Mencatat pengaman yang digunakan berikutnya.
·         Sebagai leader untuk pitch berikutnya.
·         Membawa tali untuk pemanjatan.

PEMANJATAN UNTUK PITCH 2 DAN SELANJUTNYA

Setelah cleaner sampai di pitch 1 langsung persiapan untuk pemanjatan berikutnya. Pada pitch 2 ini cleaner menjadi leader dan yang tadi sebagai leader berganti menjadi belayer. Sementara itu personil yang masih di bawah naik dengan jummaring, bila kondisi memungkinkan gerakan personil dari bawah dapat dilakukan dalam waktu yang bersamaan dengan leader pada pitch 2, yang hanya perlu diwaspadai adanya runtuhan batuan, terutama karena gerakan leader. Untuk pemanjatan selanjutnya pada pitch berikut prosedurnya sama seperti di atas.

TURUN TEBING

Setelah semua pemanjat sampai puncak atau telah menyelesaikan target yang ditentukan, maka yang harus dilakukan adalah turun tebing (rapelling). Untuk rapelling perlu dibuat anchor sebagai penambat tali. Setelah tali terpasang maka rapelling siap dilakukan. Rapelling dapat dilakukan pada tali tunggal atau ganda (double). Personel yang turun pertama kali harus membawa tali dan memasang pada pitch berikutnya. Personel yang terakhir sebaiknya menggunakan double rope dan tali hanya dikalungkan pada anchor, agar tali tersebut dapat ditarik ke bawah, begitu seterusnya untuk setiap pitch.
Hal-hal yang perlu  diperhatikan dalam rapelling :
·         Ujung bawah tali harus disimpul
·         Tali antar pitch harus selalu dihubungkan
·         Waspada terhadap runtuhan batuan
DI DASAR TEBING
Setelah semua pemanjat turun, dilakukan pendataan dan pengecekan peralatan yang dipakai.

PEMBUATAN TOPO

Topo adalah gambar atau sket jalur yang berhasil dipanjat. Sket ini dilengkapi dengan data sebagai berikut :
1.       Nama jalur
2.       Lokasi
3.       Jenis batuan tebing
4.       Tinggi tebing
5.       Sistem pemanjatan
6.       Teknik pemanjatan
7.       Waktu pemanjatan
8.       Tingkat kesulitan (grade)
9.       Data peralatan yang digunakan
10.    Daftar pemanjat

Jenis Pembuatan Jalur
Secara umum ada dua aliran teknik pembuatan jalur yang dewasa ini dapat dianut yaitu aliran tradisional dan aliran modern. Perlu diingat, tulisan ini membahas teknik pembuatan jalur untuk diselesaikan secara free climbing.
Pembuatan jalur secara tradisional pada prinsipnya adalah membuat jalur sambil memanjat. Teknik ini cenderung bernilai petualang, karena lintasan yang akan digunakan sama sekali baru, tanpa pengaman, tanpa dicoba lebih dahulu, dan pemanjat langsung membuat jalur tersebut dari bawah sampai puncak.
Sementara itu ada dua cara yang banyak dilakukan dalam teknik pemanjatan modern.
·         Cara 1 adalah dengan teknik tali tetap (fixed rope technic). Pada teknik ini, pembuatan jalur dapat dilakukan dengan rapelling (rap bolting) atau ascending pada tali tetap (fixed rope) yang telah terpasang. Langkah selanjutnya adalah perencanaan arah jalur dan pemasangan pengaman tetap (bor).
·         Cara 2 mirip dengan cara 1, tetapi tidak dengan tali tetap melainkan dengan menggunakan top rope. Kelebihan cara ini, pembuat jalur dapat melakukan pembuatan arah jalur. Dapat direncanakan arah jalur dan penempatan pengaman lebih persisi karena gerakan pemanjat dapat diketahui terlebih dahulu.
Hal penting untuk diperhatikan dalam dua teknik ini adalah pembuat jalur harus memperhatikan dan mencapai titik akhir sebagai tempat penambatan tali tetap atau top rope. Titik akhir jalur dapat dicapai dengan banyak cara, diantaranya dengan melewati jalan setapak atau lewat jalur lain yang telah ada  bila titik jalur mustahil dicapai karena masih ada lagi yaitu dengan pemanjatan artifisial. Setelah pembuatan jalur tuntas secara artifisial, pembuat jalur dapat membatasi atau mengurangi jumlah pengaman (hanger) untuk dipanjat secara free climbing.

Teori Evakuasi
 
Cedera atau kecelakaan pada kegiatan panjat tebing sudah sering terjadi, dan hal tersebut sudah merupakan resiko bagi penggemar kegiatan yang penuh resiko dan tantangan ini. Bahkan bukan itu saja, kematian akibat kecelakaan ketika melakukan pemanjatan dapat saja terjadi.


Akibat buruk lainnya  adalah patah tulang atauretak tulang ketika jatuh dalam melakukan kegiatan. Dari kasus semacam inilah, sebagai pemanjat dituntut untuk sedikit banyak mengetahui teknik evakuasi.
Ada tiga cara mengevakuasi korban pada kasus kecelakaan kegiatan panjat tebing :
1.       Korban diturunkan (lowering)
2.       Korban dinaikkan (raising)
3.       Korban diseberangkan (suspension)
Keputusan untuk mengambil salah satu cara yang dilakukan harus cermat dalam pemilihannya. Sebelum dievakuasi, sebaiknya diketahui stadium korban, jika sudah diketahui kemudian dilakukan pertolongan pertama (First Aid). Selanjutnya pertimbangkan lagi cara yang diambil, apakah korban dievakuasi dengan jalan dinaikkan, diturunkan atau diseberangkan di tebing sebelahnya.
Pertolongan sangat mutlak untuk dilakukan, pernah ada kasus di tebing Dolomite – Italy, seorang pemanjat jatuh, saat itu tali utama dililitkan ke perut. Ketika tali utama jatuh, tali yang dililitkan bergeser ke bagian atas badan kemudian menghantam bagian tulang rusuk sampai patah, ketika dievakuasi tidak diketahui sejauh mana tulang rusuknya patah, sehingga main pangku begitu saja. Akibatnya sangat fatal, tulang rusuk yang patah menusuk paru-paru dan akhirnya pemanjat itu meninggal.
Di Indonesia ada beberapa peristiwa yang pernah terjadi sehingga dibutuhkan ketrampilan panjat tebing. Pada tahun 1982, ketika dua orang mengalami kecelakaan di tebing sekitar Maribaya Kabupaten Bandung, yang satu retak pergelangan lutut, dan yang satu lagi retak bagian kepala akibat tertimpa batu, kejadiannya pada ketinggian 110 m dari dasar tebing yang berupa sungai, akhirnya korban dinaikkan. Kemudian tahun 1988, di tebing Parang, Purwakarta, dari dua orang pemanjat salah satunya jatuh hampir sepanjang tali (45 m), akibatnya mengalami patah tulang bahu dan jari tangan, kejadiannya pada ketinggian 300 m dari dasar tebing, korban selanjutnya diturunkan.
Pada tahun 1989, satu tim sedang melakukan pembuatan jalur baru di tebing Unta (Kalimantan Barat), salah seorang jatuh bebas dari tali utama dan tersangkut pada teras batu pada ketinggian 415 m dari dasar, meninggal, tetapi sulit untuk dievakuasi, akhirnya didatangkan satu tim panjat tebing dan korban diturunkan setelah tersangkut selama dua hari.
Agar tidak terjadi masalah baru dalam menangani kasus yang terjadi di tebing, jika tidak merasa mampu sebaiknya jangan melakukan evakuasi. Tetapi ada baiknya minta pertolongan pada orang lain yang dianggap mampu.
Dalam pendakian tentu saja harus diperhatikan faktor-faktor yang dapat membawa kita pada keselamatan, diantaranya :
1.       Mengambil keputusan yang sifatnya untung-untungan, perhitungkan semua resiko yang dapat terjadi pada diri anda.
2.       Melakukan pemanjatan tanpa dilengkapi peralatan pengaman apapun.
3.       Berada di tempat-tempat yang tinggi atau puncak di waktu hujan atau akan turun hujan.
4.       Menjatuhkan batu atau benda-benda dari atas, jika di bawah masih ada orang. Dalam keadaan terpaksa beri tanda dengan teriakan serta keterangan kemana arah jatuh batu/benda tersebut.
5.       Memanjat (prussiking) tali utama yang menjuntai, disebabkan tersangkut oleh sesuatu hal.

Panjat Tebing Es (Snow &  Ice  Climbing)
Pada pendakian gunung yang sangat tinggi, sering kita jumpai medan-medan yang tertutup es maupun salju. Untuk itu diperlukan alat-alat dan teknik-teknik khusus dalam penjelajahannya.

PERALATAN
Ice Axe/Kapak Es, Digunakan sebagai :
·         Tongkat untuk berjalan
·         Alat bantu pada tebing-tebing es terjal
·         Untuk belay
·         Berfungsi sebagai rem
Ice Screws, Yaitu sebagai pasak yang dipakai dalam pendakian gunung bersalju, berfungsi sama dengan piton dan paku bor, pada rock climbing.
Crampons, Suatu alat yang berbentuk frame dengan paku-paku yang dapat dipasang pada sepatu pendaki, gunanya untuk berjalan pada medan bersalju yang menurun (snow slope) maupun yang terjal.

Peralatan yang digunakan pada Ice Climbing hampir sama dengan peralatan rock climbing hanya saja memiliki kemampuan untuk berfungsi pada daerah bersalju yang dingin namun tidak sekeras batu
 

TEKNIK-TEKNIK

Self Arrest

Teknik untuk dapat berhenti dengan cepat waktu tergelincir, yaitu dengan memanfaatkan bermacam-macam posisi yang menguntungkan disertai dengan bantuan Ice Axe sebagai rem.

Single Axe Technique

 
Teknik memanjat tebing bersalju yang curam dengan memanfaatkan Ice Axe dan Crampons.
Pada medan bersalju yang terjal, pendakian “rope climbing” juga sering digunakan, dengan Ice Screw dan Ice Piton sebagai runner. Perjalanan dilakukan secara serentak/bersama-sama dan berurutan, jarak antar pendaki lebih kurang 20 kaki dan dihubungkan dengan tali, sisa tali dililitkan ke tubuh. Bila salah seorang pendaki tergelincir, yang lain akan membelay, dengan memanfaatkan Ice Axe sebagai rem.




Lembaga Induk Panjat Tebing Di Indonesia
Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) adalah lembaga induk seluruh organisasi yang bergerak dalam bidang panjat tebing di Indonesia. FPTI bernaung di bawah pembinaan Komite Olah Raga Nasional Indonesia (KONI) dan berafiliasi kepada UIAA (Union Internationale des Associations d'Alpinisme) sebagai organisasi payung bagi kegiatan panjat tebing di seluruh dunia. Olah raga panjat tebing sendiri dewasa ini telah menjadi cabang resmi di Olimpiade dan di Indonesia telah pula menjadi cabang olah raga resmi yang dipertandingkan dalam Pekan Olah Raga Nasional (PON). 
FPTI saat ini secara rutin menyelenggarakan kompetisi reguler baik ditingkat nasional maupun lokal / daerah untuk memenuhi kualifikasi cabang olah raga resmi PON. Setiap peserta / atlit yang rutin mengikuti jadwal kompetisi dan berhasil menjuarai akan dimasukkan ke dalam daftar peringkat lokal dan nasional. Atlit yang telah mendapat peringkat kompetisi kemudian akan diarahkan untuk mengikuti TC (training center) baik untuk kepentingan daerah, nasional maupun internasional. 
Hingga saat ini FPTI telah menyelenggarakan kejuaraan tingkat dunia yang merupakan salah satu seri dari rangkaian kompetisi internasional yang menjadi jadwal UIAA. Hasil dari kejuaraan ini sangat menggembirakan karena atlit-atlit nasional putra dan putri Indonesia mampu menjadi juara. Dengan demikian peluang Indonesia untuk mengikuti seri kompetisi internasional maupun olimpiade akan semakin besar. 

CATATAN PENTING

H a r u s . . .

1.       Mempunyai minimal 2 buah pengaman yang nilai pengamannya sangat tinggi (baik), dalam hal pemanjatan maupun tahap penambatan.
2.       Belayer (penambat) selalu dapat melihat gerakan-gerakan orang yang sedang ditambat (pemanjat).
3.       Selalu dalam keadaan seimbang 3 titik dalam melakukan gerakan dalam memanjat tebing.
4.       Mengetahui kedudukan pengaman yang telah/baru dipasang secara tepat dan selalu memberi sentakan keci agar dapat memastikan apakah pengaman tersebut masih goyah atau tidak.
5.       Selalu memeriksa kekuatan-kekuatan pengaman atau gelang-gelang yang ditinggal pemanjat lain, jika ragu-ragu ganti atau perbaiki sehingga menjadi pengaman yang aman.
6.       Memperhitungkan jalan untuk turun atau jalan pintas yang lebih mudah.
7.       Menghindarkan tali utama (tali pemanjatan) bergesekan dengan batuan/benda-benda tajam, bila perlu tumpulkan dulu.
8.       Memeriksa keadaan pegangan-pegangan/injakan yang hendak digunakan dengan jalan memukul atau mengetuk-ngetuk.
9.       Membawa perlengkapan PPPK dalam setiap pemanjatan.
10.    Memeriksa kembali simpul-simpul tali utama yang menghubungkan ujung tali dengan tubuh/harness (minimal dua kali pemeriksaan).
11.    Memeriksa kembali seluruh peralatan yang mengunakan simpul-simpul (sling, chock, dan  lain sebagainya).

S e b a i k n y a . . .

·         Tidak tepat berada di bawah orang yang sedang memanjat.
·         Jarak pemanjat dengan belayer tidak terlalu jauh.
·         Pengaman-pangaman yang dipasang tidak terlalu jauh jaraknya (kurang lebih 2 meter).
·         Untuk memanjat jalur-jalur yang baru sebaiknya membawa pengaman pasak atau kalau sangat perlu sekali, siapkan peralatan bor.
·         Setiap pemanjat membekali diri dengan sepasang tali penjerat (prusik rope).
·         Orang yang pertama kali turun diamankan juga oleh tali pengaman cadangan yang ditambatkan oleh orang lain (belayer).
·         Orang yang di bawah memakai pelindung kepala (helm).
·         Tidak melakukan pemanjatan di waktu hujan turun.
·         Pengaman pertama adalah pengaman pengunci.
ISTILAH PANJAT TEBING
Aid Climbing             :   pemanjatan dengan bantuan peralatan seperti piton, chock, bolt, dan lain-lain, dimana pemanjatan bebas tidak mungkin dilakukan, pemanjatan bergantung sepenuhnya pada peralatan.
Belay, membelay       :   mengamankan dengan tali, baik oleh leader maupun belayer.
Belayer                      :   orang yang mengamankan leader dengan tali.
Big Wall Climbing     :   pemanjatan suatu tebing yang dilakukan berhari-hari dengan teknik tali-temali khusus dan tidur bergantung di tebing kadang-kadang dilakukan.
Bolt                           :   baut pengaman, untuk memasangnya tebing harus dibor terlebih dahulu.
Clean Climbing          :   pemanjatan tanpa menggunakan piton dan bolt, biasa juga disebut dengan free climbing.
Crux                          :   tahapan tersulit dalam gerakan pemanjatan.
Edging                       :   menggunakan sisi sepatu pada hold yang tipis atau tajam.
Exposure                  :   factor psikologis yang timbul akibat ketinggian, jauh dari pengaman dan kecuraman tebing, sehingga pemanjatan terasa lebih sulit bila dibandingkan dengan tingkat kesulitan yang sama pda ketinggian yang rendah.
Fixed rope                 :   tali tetap, dapat dipergunakan untuk titian naik dan pegangan tangan pada tempat yang sulit.
Grade                        :   sistem yang digunakan untuk menyatakan kesulitan tebing.
Hand travers             :   Teknik merayap tebing kea rah samping dengan mempergunakan hand hold.
Hold                          :   suatu bentuk pada permukaan tebing yang meungkinkan tangan atau kaki berpegang atau berpijak.
Hypothermia             :   kadang-kadang disebut exposure, kondisi kesehatan yang bisa berakibat fatal bila tubuh kehilangan panas.
Leader                       :   pemimpin pemanjatan atau orang pertama yang merintis jalan.
Main rope                 :   tali utama yang dipergunakan dalam pemanjatan.
Natural protection     :   pengaman alam spohon, lubang tembus, tanduk dan sebagainya.
Objective danger       :   factor resiko bahaya di luar control manusia, seperti cuaca, runtuhan batuan dan lainnya.
Pitch                          :   tahapan pemanjatan, tidak tergantung tinggi rendahnya tebing yang dipanjat.
Rock fall/fall             :   peringatan apabila ada benda jatuh dari atas (batu,palu,chock, dan lainnya).
Running belay, runner   :          pengaman yang dipasang oleh leader baik berupa piton, chock atau bolt guna mengamankan gerakan pemanjatan, tali utama bebas bergerak padanya.
Serious ascent           :   pemanjatan pada tempat yang berbahaya atau tidak ada pengaman.
Traverse                    :   gerakan ke samping, suatu ketika lintasan harus dihindari oleh leader. Hingga bergerak ke samping untuk memulai lintasan baru ke atas:
                                     - pemanjatan dan penurunan puncak dengan rute yang berbeda
                                     - sebuah rute mengikuti punggungan yang menyambung sampai ke puncak
Three point contact   :   tiga titik kontak pada pemanjatan setiap kali bergerak, “tiga kuat satu mencari”.

Tidak ada komentar: